MAKALAH
ILMU TAFSIR
BERSYUKUR
Makalah
ini diajukan untukn memenuhi tugas mata kuliah ilmu tafsir
Disusun
oleh :
Nama : Wiki Pirmanudin
Nimko : 013.011.0030
Prodi : Pendidikan Agama Islam
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM SILIWANGI
BANDUNG
TAHUN AKADEMIK 2013/2014
Pendahuluan
Berapa banyak kenikmatan yang Allah S.w.t. berikan kepada kita sebagai hamba-Nya. Sudahkah kita bersyukur ? Jika kita hitung-hitungnyapun, kita tidak akan sanggup menghitungnya. Ini artinya betapa banyak kenikmatan yang Allah S.w.t. anugerahkan kepada kita, maka sudah selayaknya kita senantiasa bersyukur terhadap kenikmatan yang Allah S.w.t. berikan kepada kita. Syukur terhadap nikmat yang diberikan Allah S.w.t., akan membuat nikmat itu sendiri bertambah. Sementara sebaliknya, ingkar/kufur nikmat yang diberikan-Nya, akan membuat diri kita terkena azab dari-Nya, sebagaimana Allah S.w.t. berfirman:
Berapa banyak kenikmatan yang Allah S.w.t. berikan kepada kita sebagai hamba-Nya. Sudahkah kita bersyukur ? Jika kita hitung-hitungnyapun, kita tidak akan sanggup menghitungnya. Ini artinya betapa banyak kenikmatan yang Allah S.w.t. anugerahkan kepada kita, maka sudah selayaknya kita senantiasa bersyukur terhadap kenikmatan yang Allah S.w.t. berikan kepada kita. Syukur terhadap nikmat yang diberikan Allah S.w.t., akan membuat nikmat itu sendiri bertambah. Sementara sebaliknya, ingkar/kufur nikmat yang diberikan-Nya, akan membuat diri kita terkena azab dari-Nya, sebagaimana Allah S.w.t. berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنّكُمْ،
وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu
memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah
(nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya
azab-Ku sangat pedih”. (Q.S. Ibrahim[14]: 7)
Di ayat lain, Allah S.w.t.
berfirman :
وَاللهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُوْنِ أُمّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ شَيْئًا،
وَجَعَلَ لَكُمُ السّمْعَ وَاْلأَبْصَارَ وَاْلأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ
تَشْكُرُوْنَ
”Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut
ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu
pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (Q.S. An-Nahl
[16]: 78)
Ini artinya, saat kita lahir, kita tidak
tahu apa-apa, tidak ada ilmu pengetahuan yang kita miliki. Yang
kita miliki hanya ‘naluri’ saja. Seorang bayi yg menangis menandakan si bayi
mengirim naluri kepada orang tuanya bahwa ada sesuatu yg tidak dia sukai, entah
mengompol, buang air, dan sebagainya. Barulah pada tahapan berikutnya,
diajarkan kemampuan mendengar, melihat, berbicara, akal budi, dan sebagainya. Maka
hati, mata, dan telinga harus menjadi sarana untuk bersyukur kita kepada-Nya.
Kaitannya dengan bersyukur ini, Rasulullah s.a.w.
bersabda :
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ؛ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ. (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)
“Seorang mukmin itu
sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan
terjadi demikian kecuali pada seorang mu’min sejati. Jika ia mendapat
kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia
bersabar, dan itu baik baginya”. (HR. Muslim)
Cara bersyukur
kepada Allah
Pada intinya, cara bersyukur itu ada tiga macam. Ketiganya sangat penting untuk kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, bersyukur dengan hati nurani.
Kata hati alias nurani selalu benar dan jujur. Untuk itu, orang yang bersyukur
dengan hati nuraninya sebenarnya tidak akan pernah mengingkari banyaknya nikmat
Allah. Dengan detak hati yang paling dalam, kita sebenarnya mampu
menyadari seluruh nikmat yang kita peroleh setiap detik hidup kita tidak lain
berasal dari Allah. Hanya Allahlah yang mampu menganugerahkan nikmat-Nya.
Kedua, bersyukur
dengan ucapan. Lidahlah yang
biasa melafalkan kata-kata. Ungkapan yang paling baik untuk menyatakan syukur
kita kepada Allah adalah hamdalah. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda,
”Barangsiapa mengucapkan subhanallah, maka baginya 10 kebaikan. Barangsiapa
membaca la ilaha illallah, maka baginya 20 kebaikan. Dan, barangsiapa membaca
alhamdu lillah, maka baginya 30 kebaikan.”
Ketiga, bersyukur dengan perbuatan,
yang biasanya dilakukan anggota tubuh. Tubuh yang diberikan Allah kepada
manusia sebaiknya dipergunakan untuk hal-hal yang positif. Menurut Imam
al-Ghazali, ada tujuh anggota tubuh yang harus dimaksimalkan untuk bersyukur.
Antara lain, mata, telinga, lidah, tangan, perut, kemaluan, dan kaki. Seluruh
anggota ini diciptakan Allah sebagai nikmat-Nya untuk kita. Lidah, misalnya,
hanya untuk mengeluarkan kata-kata yang baik, berzikir, dan mengungkapkan
nikmat yang kita rasakan. Allah berfirman, ”Dan terhadap nikmat Tuhanmu,
hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (QS Aldhuha [93]: 11).
Oleh karena itu, marilah kita syukuri
nikmat yang Allah berikan kepada kita dengan ketiga cara bersyukur sebagaimana
dijelaskan di atas, yakni : dengan hati nurani, ucapan dan
perbuatan kita, agar nantinya kita jangan termasuk golongan orang-orang
yang rugi dunia-akhirat, dan semoga kita termasuk orang-orang yang pandai
bersyukur atas segala nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita, amin.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa cara
bersyukur kepada ALLAH SWT terdiri dari empat komponen.
1. Syukur dengan Hati
Syukur dengan hati dilakukan dengan
menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang kita peroleh, baik besar, kecil, banyak
maupun sedikit semata-mata karena anugerah dan kemurahan ALLAH.
ALLAH SWT berfirman,
ALLAH SWT berfirman,
Segala nikmat yang ada pada kamu (berasal)
dari ALLAH. (QS. An-Nahl: 53)
Syukur dengan hati dapat mengantar
seseorang untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan
keberatan, betapa pun kecilnya nikmat tersebut. Syukur ini akan melahirkan
betapa besarnya kemurahan da kasih sayang ALLAH sehingga terucap kalimat tsana’ (pujian) kepada-NYA.
2. Syukur dengan Lisan
Ketika hati seseorang sangat yakin bahwa
segala nikmat yang ia peroleh bersumber dari ALLAH, spontan ia akan mengucapkan “Alhamdulillah” (segala puji bagi ALLAH). Karenanya, apabila ia
memperoleh nikmat dari seseorang, lisannya tetap memuji ALLAH. Sebab ia yakin
dan sadar bahwa orang tersebut hanyalah perantara yang ALLAH kehendaki untuk
“menyampaikan” nikmat itu kepadanya.
Al pada kalimat Alhamdulillah berfungsi sebagi istighraq, yang
mengandung arti keseluruhan. Sehingga kata alhamdulillah mengandung arti bahwa
yang paling berhak menerima pujian adalah ALLAH SWT, bahkan seluruh pujian
harus tertuju dan bermuara kepada-NYA.
Oleh karena itu, kita harus mengembalikan
segala pujian kepada ALLAH. Pada saat kita memuji seseorang karena kebaikannya,
hakikat pujian tersebut harus ditujukan kepada ALLAH SWT. Sebab, ALLAH adalah
Pemilik Segala Kebaikan.
3. Syukur dengan
Perbuatan
Syukur dengan perbuatan mengandung arti
bahwa segala nikmat dan kebaikan yang kita terima harus dipergunakan di jalan
yang diridhoi-NYA. Misalnya untuk beribadah kepada ALLAH, membantu orang lain
dari kesulitan, dan perbuatan baik lainnya. Nikmat ALLAH harus kita pergunakan
secara proporsional dan tidak berlebihan untuk berbuat kebaikan.
Rasulullah saw menjelaskan bahwa ALLAH
sangat senang melihat nikmat yang diberikan kepada hamba-NYA itu dipergunakan
dengan sebaik-baiknya. Rasulullah saw bersabda,
Sesungguhnya ALLAH senang melihat atsar
(bekas/wujud) nikmat-NYA pada hamba-NYA. (HR. Tirmidzi dari Abdullah bin Amr)
Maksud dari hadits di atas adalah bahwa
ALLAH menyukai hamba yang menampakkan dan mengakui segala nikmat yang
dianugerahkan kepadanya. Misalnya, orang yang kaya hendaknya menampakkan
hartanya untuk zakat, sedekah dan sejenisnya. Orang yang berilmu menampakkan
ilmunya dengan mengajarkannya kepada sesama manusia, memberi nasihat dsb.
Maksud menampakkan di sini bukanlah pamer, namun sebagai wujud syukur yang
didasaari karena-NYA. ALLAH SWT berfirman,
Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah
engkau nyatakan (dengan bersyukur). (QS. Adh-Dhuha: 11)
4. Menjaga Nikmat dari
Kerusakan
Ketika nikmat dan karunia didapatkan,
cobalah untuk dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Setelah itu, usahakan untuk
menjaga nikmat itu dari kerusakan. Misalnya, ketika kita dianugerahi nikmat
kesehatan, kewajiban kita adalah menjaga tubuh untuk tetap sehat dan bugar agar
terhindar dari sakit.
Demikian pula dengan halnya dengan nikmat
iman dan Islam. Kita wajib menjaganya dari “kepunahan” yang disebabkan
pengingkaran, pemurtadan dan lemahnya iman. Untuk itu, kita harus senantiasa
memupuk iman dan Islam kita dengan sholat, membaca Al-Qur’an, menghadiri
majelis-majelis taklim, berdzikir dan berdoa. Kita pun harus membentengi diri
dari perbuatan yang merusak iman seperti munafik, ingkar dan kemungkaran.
Intinya setiap nikmat yang ALLAH berikan harus dijaga dengan sebaik-baiknya.
Kesimpulan
Dari paparan di atas, dapat disimpulkan
hal-hal sebagai berikut :
1. Betapa banyak
kenikmatan yang Allah S.w.t. anugerahkan kepada kita, maka sudah selayaknya
kita senantiasa bersyukur terhadap kenikmatan yang Allah S.w.t. berikan kepada
kita.
2. Syukur terhadap
nikmat yang diberikan Allah S.w.t., akan membuat nikmat itu sendiri bertambah.
Sementara sebaliknya, ingkar/kufur nikmat yang diberikan-Nya, akan membuat diri
kita terkena azab dari-Nya.
3. Tiga cara bersyukur:
a. Bersyukur dengan hati nurani.
b. Bersyukur dengan ucapan.
c. Bersyukur dengan perbuatan.
Penutup
Semoga artikel ini menambah iman dan takwa kita kepada
Allah S.w.t. dengan senantiasa meningkatkan syukur nikmat kita
kepada-Nya, amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar